Saya menghisap rokok dalam-dalam. Perasaan serasa hampa walaupun saat ini sedang berada di tengah hiruk-pikuk di salah satu klub malam di Bandung. Suara musik yang berdentum kencang, mengalunkan salah satu lagu favorit dugem, Shadow yang kemudian dilanjutkan dengan Destination dan Starlight nya Muse. Banyak mata pria-pria hidung belang, baik tua atau muda, memandang ke arahku yang memang lumayan cantik. Apalagi didukung dengan badan yang sexy, montok dan sekal, tidak mudah untuk mengalihkan mata pria dari sosok tubuhku. Tapi saya cuek saja dan tidak memperhatikan keberadaan para pria tersebut.
Di tengah kegermerlapan tersebut, saya merasakan kehampaan dalam hati. Padahal kalau dipikir-pikir, saya seorang wanita yang cantik. Saya rasa tidak susah bagi saya untuk mencari pendamping. Harta yang saya punya juga lumayan melimpah, sangat cukup untuk memenuhi gaya hidup saya yang mewah. Mobil BMW Z4 adalah kendaraan saya saat ini. Sebelumnya saya menggunakan Mazda RX-8. Walaupun sebagai wanita, tapi saya sangat menyenangi mobil-mobil sport. Hampir tiap hari saya dimanjakan dan dirawat di salon atau klinik kecantikan yang mahal. Saya rasa banyak wanita di dunia ini yang ingin bertukar tempat dengan saya.
Namun, mengapa kehampaan ini menghampiri diriku ?? Kenapa saya tidak pernah merasa bahagia. Kegalauan ini menimpa diriku ketika melihat sebuah peristiwa yang sangat mengharukan dan menggetarkan hatiku. Sebelum memasuki klub malam, saya membeli rokok dulu di sebuah warung gerobak di pinggir jalan. Saat membeli rokok, saya diladenin seorang ibu dengan sangat ramah. Senyum sangat bahagia tersungging di wajahnya. Di sebelahnya terbaring seorang anak laki-laki, saya perkirakan umurnya mungkin 5-6 tahun. Di sebelah anak tersebut ada sebotol obat anak penurun demam, kelihatannya obat tersebut baru saja dibuka dan diminum oleh anak tersebut. Di dekat pintu gerobak tersebut, saya juga melihat seorang bapak, tukang becak yang sedang mengaso melepas lelah, namun juga dihiasi dengan senyum yang sangat bahagia.
Terus terang, senyum bahagia bapak dan ibu tersebut sangat mengusik saya. Akhirnya dengan penasaran saya bertanya, “Ibu cantik banget dengan senyum tersebut. Apa sih rahasia bisa senyum seindah itu ?”
Si ibu dengan tersipu malu menjawab, “Aduh, neng mah bisa aja. Yang cantik banget itu mah neng atuh. Geulis, sexy deuy”, jawabnya dengan logat Sunda kental.
Tetap dengan nada penasaran, “Tapi kok Ibu bisa senyum sebahagia itu Bu ?”
“O, itu karena suami saya ini (sembari menunjuk ke arah Bapak Tukang Becak yang sedang mengaso) baru saja mendapat rejeki sehingga bisa buat beli makan dan obat untuk anak saya”, jawab si Ibu.
Ibu tersebut kemudian menambahkan, “Tadinya anak saya demam tinggi banget, mau dibawa ke Rumah Sakit tapi Ibu tidak punya duit. Alhamdulilah, Allah memberi rejeki cukup untuk Bapak dan Ibu hari ini. Si adek (anak laki tersebut) baru minum obat, dan sekarang panasnya sudah turun”.
Saya kemudian bertanya lebih lanjut, “Maaf Bu, memang Bapak / Ibu dapat rejeki berapa hari ini ? Maaf Bu, cuma pengen tahu, tapi kalau Ibu tidak mau jawab juga tidak apa-apa”, kata saya lebih lanjut, takut menyinggung perasaan Bapak Ibu tersebut, karena hal ini masih sensitif untuk masyarakat Indonesia.
Si Ibu menjawab dengan cepat, “Ga apa-apa kok Neng. Bapak dapat rejeki Rp. 30.000,- hari ini. Biasanya sih Bapak rata-rata cuma dapat Rp. 25.000,-”.
Saya terus terang sangat kaget dan shock. Rp. 30.000,- telah memberikan mereka senyum dan kebahagiaan yang tidak pernah saya rasakan padahal uang segitu bagi saya sangat kecil. Saat itu juga dengan spontan saya segera kembali ke mobil dan mengatakan, “Terima kasih Ibu, kembaliannya buat Ibu saja”.
Sampai saat ini, sembari memegang segelas Illusion dan ditemani sebatang rokok, saya masih memikirkan senyum-senyum bahagia tersebut dan sejumlah pertanyaan berkecambuk di dalam kepala saya.
“Dari mana kah datangnya senyum bahagia tersebut ?”
“Apakah senyum bahagia itu karena uang Rp. 30.000 ? Padahal uang kembalian yang saya berikan (kira-kira sekitar Rp. 40.000 hanya bisa menghasilkan senyum kecil di wajah Ibu tersebut.”
“Apakah karena cintanya terhadap anaknya, sehingga kesembuhan anaknya dari demam tinggi menghasilkan senyum bahagia ?”
Saya tetap tidak mampu menjawab darimana senyum bahagia tersebut, namun satu kesimpulan muncul di otak saya, ternyata kecantikan dan kemewahan harta yang saya miliki tidak bisa mendatangkan kebahagiaan. Saya tersenyum kecil dan menetapkan hari untuk mencari kebahagiaan seperti Ibu/Bapak tukang becak tersebut.
Sudut pandang semua postingan pada kategori Reflexion adalah sudut pandang orang pertama (SAYA), namun tidak ada hubungannya dengan penulis (bukan pengalaman pribadi).
Related Posts :




Lah jadi bingung… Ini bukan pengalaman pribadi kan bro? Kamu laki2 kan???
Hahaha…bukan bro. Gua cowo murni kok
Your another blog ??
Wkwkwkwkwk… Jadi itu ceritanya darimana dapet bro? Mantep juga. Sumpeh kemaren gue terenyuh waktu mbacanya
Iya itu blog personal gue. Soalnya adieska.net isinya dah review semua. Trus susah pula diakses, makanya personal blog dipindahin ke adiksi.com aja. Adieska.net akan berisi postingan english semua dan sebagain besar adalah job paid review
@ Adieks
Pengalaman hidup orang lain dipadu dengan pengamatan pribadi.
Btw, YM nya kok jarang online…pengen kongkow-kongkow nih bro